Debu Tertiup Angin

Posted in Ceritaku dengan kaitan (tags) , , , , , , on Maret 26, 2008 by Nayantaka
Aku mempercepat langkahku. Setengah tergesa aku memutar kunci motorku ke kanan. Kutekan tombol electric starter di setang kanan motor. Kuputar handel gas motor setengah putaran. Dalam hitungan sepersekian detik, motorku telah melaju keluar halaman rumah. Menuju jalan raya. Berpacu dengan angin jalanan yang menerbangkan berjuta partikel karbon buangan dari moncong knalpot ribuan kuda besi yang melintas sepanjang hari.
Blaaarr!!!
Kilatan cahaya membelah angkasa menghunjam ke kaki langit. Diikuti gelegar guntur maha dahsyat. Mengingatkanku akan aji pamungkas gelap ngampar milik Pasingsingan dalam cerita Nagasrasra Sabukinten. Bacaan favorit masa laluku. Langit mendadak menghitam. Titik-titik uap air di angkasa berkumpul, berkitaran membentuk cendawan hitam, yang siap setiap saat memuntahkan airnya ke bumi.
Gandrik, putune Ki Ageng Selo!!!Jas hujan yang biasanya kuletakkan di bawah jok motorku, masih tergelar di tali jemuran di belakang rumah. Mutar balik? NO WAY! Aku tak ingin terlambat. Aku tak ingin kehilangan kesempatan berharga ini. Hanya gara-gara hujan. Mantak aji, ibarat orang menyeberang kali, cincing-cincing mekso klebus, aku memutuskan untuk terus melaju. Dengan resiko harus menembus tirai hujan. Dan mendung semakin menebal. Sesekali leluhur Gundala memuntahkan kemarahannya dengan kilatan cahaya dan gelegar suaranya.Akhirnya!

Aku tersenyum dan bernafas lega. Butiran air hujan belum lagi sempat mengusik bumi. Dari kejauhan sudah kulihat bangunan megah itu. Tempat tujuanku. Tempatku menuntaskan kerinduan. Dahaga sepuluh tahun ini haruslah terobati. Saat ini, detik ini juga. Ratusan, atau bahkan ribuan, sepeda motor telah memenuhi lapangan parkir di sekeliling gedung. Tak ada lagi tempat kosong. Terpaksa motor aku taruh di tepi jalan yang saat ini difungsikan sebagai tempat parkir. Seorang tukang parkir mendekatiku.

“Lima ribu mas!” Ucapnya sambil mengangsurkan potongan karcis ke arahku.

Jagad Dewo Bathoro! Entah sampai kapan, anak bangsa ini berhenti mengambil kesempatan dalam kesempitan? Parkir yang biasanya seribu perak, mendadak naik lima kali lipat! Tak ada pilihan lain. Apalagi dari dalam gedung sudah berkali-kali terdengar teriakan membahana bagaikan hendak meruntuhkan atap gedung. Kuambil selembar lima ribuan dari celah dompet, kuberikan kepada tukang parkir dadakan di depanku, yang lebih cocok jadi memedi sawah, sambil setengah berlari menuju loket.

Antrian di depan loket masih mengular. Aku berhitung, sekitar dua puluhan gundul di depan ku. Perlahan tapi pasti, antrian bergerak ke depan. Tiga kepala lagi, jatuhlah giliranku.

Gubraak!

Seorang lagi mendapatkan tiket, dan mbak penjaga loket menutup jendela. Tertempel di sana tulisan seadanya, tapi masih cukup jelas dibaca. TIKET HABIS!

Lemah lunglai sudah semua tulang belulangku. Laksana Baladewa ilang gapite. Kudengar suara-suara teriakan di belakangku. Berbagai pisuhan mulai dari yang paling standar macam jangkrik, kirik atau pitik, samapai yang paling ekstrim bergema bersahut-sahutan di sekitar gendang telingaku. Aku memilih dia. Dan menyingkir dari kerumunan. Duduk di teras kantor pengelola gedung. Termenung. Termangu. Menyesali nasib.

Seandainya aku datang setengah jam lebih awal… Seandainya aku tidak memperturutkan hawa nafsuku untuk tidur siang ….

Nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan selalu datang terlambat. Aku menghela napas panjang. Berdiri dan berjalan gontai meninggalkan pelataran gedung. Mendung telah menyingkir. Langit tak jadi menumpahkan air kehidupannya.

“Mas Ugie…”

Sayup terdengar suara memanggilku. Aku tak bereaksi. Tak mungkin ada yang mengenalku di sini. Halusinasi belaka. Aku terus mengayunkan langkahku menuju ke tepi jalan tempatku memarkir sepeda motorku.

“Mas Ugie…”

Kali ini lebih keras. Bukan halusinasi. Meski tak begitu yakin dengan telingaku, kali ini leherku terpengaruh untuk sekedar berpaling. Kalau tadi telingaku yang tak percaya, kali ini mataku yang tak percaya. Seorang perempuan, berdiri di depan pintu gedung, menatap lurus kepadaku. Diakah yang memanggilku? Kenalkah dia padaku? Atau, kenalkah aku padanya? Salah orangkah dia? Tapi nama yang dia teriakkan adalah namaku. Dan sosok yang dia pandang adalah sosok tubuhkan. Masihkah aku menganggap ini suatu kesalahan?

Urat-urat pipiku menegang, dan menarik perlahan sudut bibirku. Melebar keluar, sedikit ke atas, membentuk sebuah senyuman. Dia juga ikut tersenyum. Manis. Demikian hatiku berkata. Tanpa terasa, dan aku juga tak merasa memberikan perintah pada kedua kakiku, langkahku terayun mendekatinya.

“Lupa ya Mas, sama aku?”

Siapa yaaa??? Hatiku masih bertanya-tanya.

“Rainy, Mas” senyumnya mengembang di hadapanku.

“Iya nih, kayaknya tadi mendungnya sudah pergi, kok sekarang malah gerimis” jawabku asal-asalan, sambil terus berpikir penuh penasaran.

“Maksudku, aku Rainy mas. Masak mas Ugie lupa?” Dia masih tersenyum.

Gandrik! Putune Ki Ageng Selo! Dia tadi menyebutkan namanya to? Dasar dungu. Entah kenapa, setiap aku diajak berbicara seorang perempuan, apalagi yang cantik, mendadak level intelegensi dan tingkat kesadaran diriku melorot ke tempat yang paling rendah. Tersipu malu.

“Waduh maaf ya. Rainy yang mana ya?” Aku masih bingung.

“Dekat lapangan Pajangan, selatan warung Mbok Bronto, selang dua rumah. Ingat kan?”

Dekat lapangan Pajangan? Selatan Mbok Bronto? Otakku mengingat-ingat dengan keras. Sial! Tak satupun terlintas di pikiranku. Aku memang dulu sering main ke lapangan itu dengan teman-teman sekampung. Tapi itu limabelas tahun yang lalu.

“Ooh…. Gimana nih kabarnya? Masih tinggal di sana? Di sini ngapain?” Sok tau! Ya, sok kenal! AKu masih belum bisa mengingatnya. Kata-kata itu sekedar lewat saja. Toh mungkin setelah ini aku tak lagi berjumpa dengannya. Hanya sesaat. Seperti debu tertiup angin.

“Mas mau nonton ya? Kehabisan tiket?” Dia malah balik tanya.

“Lho kok tahu?”

Kalau saat itu ada seseorang yang membawakan cermin, pastilah kelihatan ekspresi tolol di wajahku. Jelas-jelas berkeliaran di pelataran gedung olahraga, kalaulah bukan pedagang asongan, calo tiket atau tukang parkir, ya pasti orang yang pingin nonton. Tampang suntrut, langkah gontai, kleser-kleser menjauhi gedung menuju ke tempat parkir di saat pertandingan baru saja dimulai, bukankah itu sasmito yang jelas tegas kalau aku nggak bisa masuk gedung karena kehabisan tiket? Gitu kok masih bilang lho kok tau?

“Ikut aku saja mas, kalau mau masuk. Kebetulan aku jadi panitia nih”

Rainy berbalik menuju ke salah satu pintu. Bagai kethek ditulup aku mengekor di belakangnya. Haqqul yaqin, masih dengan tampang bingung berbaur aroma bloon ketolol-tololan. Di depan pintu, dua pemuda bertampang sangar menghadang kami. Tubuh raksasa kehitam-hitaman. Kumis tebal, sedikit dipelintir. Seorang berambut panjang agak gimbal. Mungkin sudah dua minggu belum cuci rambut. Seorang lagi berkepala plontos. Rainy melempar senyum kepada mereka. Sedikit menyeringai mereka menyingkir dari depan pintu dan memberi jalan kami untuk masuk.

“Mas, maaf ya, saya cuma bisa ngantar sampai di sini. Ada tugas lain di sekretariat. Janagn lupa kontak saya ya” Dia menyodorkan kartu namanya kepadaku. “Nomor HP saya ada di situ.” Belum sempat aku mengeluarkan sepatah kata pun, dia telah membalikkan badannya dan meninggalkanku.

“Makasih ya..” Teriakanku ditelan gemuruh sorak sorai penonton yang memadati gedung olahraga ini.

Sejurus kemudian, tenggelamlah diriku dalam riuh rendah sorak sorai para penonton. Pertandingan final sore ini betul-betul seru dan menegangkan. Memacu adrenalin. Saling kejar mengejar angka. Aku larut dalam gegap gempita. dahaga yang lama kurasakan tuntas sudah hari ini. Semenjak kepergianku ke negeri seberang, lima tahun silam, tak pernah aku menyaksikan pertandingan voli sehebat ini. Luar biasa.

2 jam sudah. Pertandingan usai. Set kelima, ternyata Putra Daya tak mampu lagi mengimbangi keperkasaan Angkasa. Para penonton mulai meninggalkan bangku-bangku mereka. Di tengah lapangan, para pemain Putra Daya masih terpekur menyesali kekalahannya, sementara di sisi lain lapangan, para pemain Angkasa bersorak-sorai merayakan kemenangannya. Aku beringsut pelan. Tiba-tiba aku teringat kartu nama yang tadi diberikan perempuan itu kepadaku.

Rainy. Siapakah dia? Cukupkah nama itu berarti bagiku? Atau sekedar akan menjadi debu yang tertiup angin?

Catatan:

gelap ngampar = berarti petir menyambar, nama ajian milik Pasingsingan yang diturunkan kepada Lowo Ijo dalam kisah Nagasasra Sabukinten, berupa suara tertawa dahsyat yang mampu meremukkan organ-organ tubuh orang yang terkena paparannya.

Gandrik! Putune Ki Ageng Selo! = sebuah ungkapan spontan apabila seseorang mendengar gelegar petir. Dalam mitologi Jawa, Ki Ageng Selo adalah penakluk petir, dan dengan menyebutkan putune Ki Ageng Selo (putu=cucu, anak turun) maka petir akan takut menyambar kita

mantak aji = membulatkan tekad

cincing-cincing mekso klebus = sudah menggulung celana masih tetap saja basa, sudah terlanjur

memedi sawah = orang-orangan pengusir burung di sawah

gundul = kepala

Baladewa ilang gapite = Baladewa adalah salah satu tokoh wayang yang terkenal brangasan. Ilang gapite, kehilangan gagangnya. Wayang kulit jika dilepaskan gagang penjepitnya akan lemas dan tak bisa berdiri. Baladewa ilang gapite dapat diartikan sebagai seseorang yang lemah lunglai tak berdaya.

suntrut = kusut, sedih

kleser-kleser = berjalan dengan langkah gontai

sasmito = pertanda